🕹️ Kalam Imam Haddad Tentang Cinta
ImanImam Al-Haddad 2018-05-01 Membimbing pembaca untuk mengenal ilmu-ilmu yang wajib dari akidah Islamiah dan hukum-hakamnya, serta ciri-ciri akhlak yang mulia. Ia juga menunjukkan cara-cara berdakwah ke jalan Allah Ta'ala, dengan berdalilkan ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadis. Memahami Islam Jawa M. Bambang Pranowo 2009 Practice of Islam and
BinAlwi Al-Haddad, beliau berkata: "Kami telah melaksanakan segala sunnah Nabi SAW, dan tiada satu sunnah yang kami tinggalkan”. Al-Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad mengikuti jejak Rasulullah SAW yang memanjangkan rambutnya hingga
Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Makkah, bahkan lebih besar lagi, bersihkanlah lingkungannya, berkatilah untuk kami dalam setiap sha` serta mudnya (sukatan) dan alihkanlah wabak penyakit (Madinah) ke daerah Juhfah." Qasidah Ya ‘Alimas Sirri Minna - Imam Abdullah Al-Haddad
ImamAl-Ghazali (w, 111 M.) adalah ulama’ ahli syari’at penganut mazhab syafi’I dalam hukum fiqh, dan seorang teolog pendukung Asy’ari yang sangat kritis, namun sesudah lamjut usia ia mulai meragukan dalail akal yang menjadi tiang tegaknya mazhab asy’ariah di samping dalil wahyu.
Diantarakitab-kitab tafsir yang sangat penting untuk dibaca dan dipelajari adalah tafsir karya Imam al-Husein bin Mas’ud al-Farra’ al-Baghawi. Tafsir al-Baghawi ini adalah bekal untuk menyelami lautan makna Kalamullah. Para imam Bani Alawi sangat menganjurkan para penuntut ilmu agar membaca tafsir al-Baghawi tersebut.
Kitabkitab karangannya telah menjadi rujukan ilmu agama oleh umat islam hingga kini. Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada allah swt, ia akan selamat. 27 Kata Kata Cinta Imam Syafii Kata Bijak Mutiara Cinta Kata kata imam al ghazali tentang cinta. Quotes imam syafii tentang cinta. Kata bijak imam syafii tentang merantau. Apa yang beliau
Mulaidari dalil-dalil syariat Islam tentang cinta, hakikat, sebab, sampai yang berhak mendapatkan cinta. Mari kita mulai dari pembahasan yang pertama. Dalam Al-Qur’an, tidak sedikit ditemukan berbagai ayat yang berbicara tentang cinta, begitu pun dengan hadist Rasulullah, bahkan keimanan paling sempurna adalah iman yang dilandasi dengan cinta.
Shareapabilaada pertanyaan yang berbunyi, sebutkan apa saja 6 syarat untuk menuntut ilmu menurut Imam Syafii, maka anda dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan membaca postingan dibawah ini. Informasi tentang 6 persyaratan dalam menuntut ilmu menurut Imam Syafi’I yang tertuang dalam mahfudzot kata kata mutiara arab yang terkenal di kalangan
Sebagian akhirnya mengklaim bahwa Ahmad bin al-Muhajir yang menjadi muara nasab para pendakwah Islam di Indonesia, termasuk Wali Songo, pendukung Imamah yang menjadi doktrin Syiah. Idrus Alwi al-Masyhur dalam Sejarah, Silsisah dan Gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW, menegaskan bahwa Imam al-Muhajir yang bernama lengkap Ahmad bin Isa
2n9wfL. 100% found this document useful 1 vote127 views12 pagesDescriptionbOriginal Titlekalam mutiara imam haddadCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 1 vote127 views12 pagesKalam Mutiara Imam HaddadOriginal Titlekalam mutiara imam haddadJump to Page You are on page 1of 12 You're Reading a Free Preview Pages 6 to 11 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Berbicara cinta, artinya berbicara sesuatu yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Bahkan, sejak zaman Nabi Adam alaihissalâm sampai kelak hari kiamat datang, pembahasan tentang cinta tidak akan selesai. Setiap generasi mempunyai bahasan menarik dan pelik tentangnya. Islam sebagai agama paripurna, juga andil membahas topik ini. Islam mengatur tentang cara bercinta, dan siapa yang layak dicinta. Bahkan, tidak jarang kita temukan jargon, “Islam sebagai agama cinta.” Juga banyak manusia menemukan jati diri dan bangkit, bahkan menemukan bakat yang selamanya terpendam dalam dirinya karema cinta. Meskipun tidak sedikit pula dengan cinta orang justru kehilangan akal sehat dan melakukan berbagai kejahantan yang sangat tidak manusiawi atas nama cinta. Hujjatul Islâm Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali dalam kitab monumentalnya Ihyâ’ Ulûmiddîn menjelaskan satu bab khusus tentang cinta mahabbah. Mulai dari dalil-dalil cinta, hakikat, sebab, dan siapa yang berhak mendapatkan cinta. Dalil-dalil Cinta Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang berbicara cinta. Begitu pun dengan hadist Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam, bahkan keimanan paling sempurna adalah iman yang dilandasi cinta. Tanpa cinta, keimanan hanya sebatas nama tanpa makna. Allah berfirman وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ Artinya, “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” Al-Baqarah 165 Hadist Rasulullah shallallâhu 'alaihi wasallam juga tidak kalah menarik ketika membahas cinta يَا رَسوْلَ اللهِ، مَا الإيْمَانُ؟ قَالَ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلهُ أَحَبَّ إلَيْكَ مِمَّا سِوَاهُمَا. رواه أحمد Artinya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud iman? Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam menjawab “Yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya lebih Kamu cintai daripada selain keduanya.” HR. Ahmad Dengan cinta, orang akan menjadi istimewa di sisi Pencipta. Tanpa cinta, ia tidak lebih sekadar seorang hamba yang tidak mempunyai nilai lebih di sisi Tuhan. Imam Al-Ghazali menulis kalam hikmah yang disampaikan Syekh Sari As-Saqathi, tokoh sufi pertama kota Baghdad تُدْعَى الْأُمَمُ يَوْمَ القِيَامَةِ بِأَنْبِيَائِهَا عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ. فَيُقاَلُ يَا أُمَّةَ مُوسَى وَيَا أُمَّةَ عِيسَى وَيَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ غَيرِ المُحِبِّيْنَ لِلهِ تَعَالَى. فَإِنَّهُم يُنَادُوْنَ يَا أَوْليَاءَ اللهِ هَلُمُّوا إِلىَ الله سُبْحَانَهُ فَتَكَادُ قُلُوبُهُم تَنْخَلِعُ فَرْحًا Artinya, “Kelak di hari kiamat, semua umat akan dipanggil menghadap Allah sesuai dengan nama nabinya. Maka dikatakan Wahai umat Musa, wahai umat Isa, wahai umat Muhammad’, kecuali para pecinta Allah, maka mereka akan dipanggil Wahai kekasih Allah, kemarilah menghadap Allah subhânahu wa ta’âla’. Maka seketika hati mereka hampir terceraiberai karena bahagia sebab panggilan itu.” Abu Hamid Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûmiddîn, [Bairut, Dârul Ma’rifah, 2010], juz IV, halaman 295. Menyimak penjelasan di atas, cinta menjadi salah satu hal penting dalam Islam. Dengannya, orang akan mempunyai nilai keimanan yang lebih di sisi Tuhan. Seolah, cinta menjadi kewajiban secara tersirat yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang sudah mempunyai keimanan secara mantap. Bagaimana tidak, dengan cinta nilai ibadah dan ketaatan seseorang akan semakin sempurna, sedangkan ketaatan merupakan salah satu cabang dari cinta itu sendiri. Tentu, untuk bisa melakukan ketaatan secara sempurna harus melalui cinta terlebih dahulu. Lantas apakah yang dimaksud cinta? Hakikat Cinta dan Klasifikasinya Menurut Imam Al-Ghazali, yang perlu dipahami sebelum membahas hakikat cinta adalah pengetahuan dan penemuan Si Pencinta. Menurutnya, cinta tidak akan tergambar, atau minimal tidak akan ada dalam sosok seseorang jika ia tidak mengetahui pada sosok yang ingin dicinta. Karenanya, semua benda benda mati tidak bisa dikatakan sebagai pecinta, karena tidak memiliki indra untuk menemukan apa pun yang layak untuk dicinta. Pengetahuan dan penemuan menjadi proses penting untuk menemukan cinta secara hakiki. Tentu nilai cinta tidak akan sama antara satu dengan lainnya, semua tergantung seberapa besar pengetahuan dan penemuannya dalam pengembaraan Si Pencinta menemukan hakikat cinta dan kepada siapa akan mencinta. Rumusnya menurut Al-Ghazali, setiap hal yang ketika menemukannya merasa nyaman dan tenang maka ia akan dicinta mahbûb. Pun setiap sesuatu ketika menemukannya merasa tersakiti dan bingung maka ia akan dibenci mabghûd. Dan setiap sesuatu yang sama sekali tidak berdampak bahagia dan luka, tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang dicinta maupun dibenci. Karenanya, definisi yang ditawarkan Al-Ghazali adalah الحُبُّ عِبارَةٌ عَنْ مَيْلِ الطَّبْعِ إِلىَ الشَّيْءِ المُلَذِّ Artinya, “Cinta adalah ungkapan dari ketertarikan watak terhadap sesuatu yang dianggap lezat.” Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûmiddîn, juz IV, halaman 296. Juga penting dipahami, jika kadar cinta sesuai dengan pengetahuan dan penemuan Si Pencinta, tentu akan menjadikan nilai cinta menjadi berbeda. Misalnya, mata akan senang dengan melihat sesuatu yang indah, telinga akan senang ketika mendengar lagu-lagu yang baik dan irama yang tersusun dan rapi, hidung akan senang ketika mencium bau-bau harum, indra perasa akan senang ketika memakan setiap makanan yang enak dan lezat. Begitulah rumus cinta yang disampaikan Al-Ghazali. Seolah ia hendak mengatakan, cinta itu universal. Tidak selalu tentang materi, akan tetapi nilai cinta sesuai dengan posisi masing-masing. Imam Al-Ghazali memposisikan cinta sebagai sesuatu yang memaksa. Tidak heran jika para pecinta membahasakannya sebagai sesuatu yang datang tanpa diundang. Al-Ghazali menyatakan اِنَّ حُبَّ القَلْبِ لِلمُحْسِنِ اِضْطِرَارًا لاَ يُسْتَطَاعُ دَفْعُهُ وَهُوَ جُبْلَةٌ وَفِطْرَةٌ لَا سَبيْلَ إِلَى تَغْيِيرِهَا Artinya, “Sungguh kecintaan hati orang yang berbuat baik merupakan sesuatu yang bersifat pasti, tidak bisa ditolak. Itu merupakan watak dan naluri yang tidak bisa diubah.” Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûmiddîn, juz IV, halaman 298. Imam Al-Ghazali membagi cinta menjadi lima kategori. Pertama, cinta kepada diri, kesempurnaan dan keberadaannya. Kedua, cinta kepada setiap orang yang berbuat baik kepadanya. Ketiga, cinta kepada orang-orang yang selalu berbuat baik kepada orang lain, meski kebaikan itu tidak diperbuat untuknya. Keempat, cinta pada setiap sesuatu secara materi, seperti kecantikan, ketampanan, etika baik, ucapan lemah lembut dan lainnya. Kelima, kecintaan yang disebabkan satu frekuensi yang terjalin dalam diri masing-masing orang yang saling mencinta. Lima pembagian kategori di atas berdasarkan sebab-sebab cinta yang kerap kali terjadi pada manusia. Tentu jika lima sebab tersebut dimiliki oleh seseorang, maka secara pasti akan menjadi orang yang sangat dicinta. Contohnya, jika orang mempunyai anak dengan wajah tampan/cantik, baik etikanya, sempurna ilmunya, baik perangainya, berbuat baik pada orang lain, dan berlaku baik pada kedua orang tuanya, sudah tentu ia akan menjadi anak yang sangat dicinta oleh kedua orang tuanya. Yang Berhak Dicinta Sebagaimana disebutkan pada ayat dan hadits di awal tulisan, cinta merupakan hal penting dalam Islam. Dengan cinta orang akan lebih semangat dan ikhlas untuk melakukan setiap sesuatu yang disenangi oleh yang dicinta. Dengan cinta pula, ia tidak lagi bertanya mengapa dan kenapa, karena semuanya dilakukan atas dasar cinta yang sudah melebihi segalanya. Karenanya, seharusnya cinta diberikan pada pihak yang memang berhak mendapatkan cinta dan layak untuk dicinta. Siapakah dia? Menurut Imam Al-Ghazali, tidak ada yang berhak untuk dicinta kecuali Allah Ta’ala. Jika ada seorang hamba meletakkan cintanya kepada selain Allah, itu menunjukkan bahwa cintanya muncul karena kebodohan dan sempitnya pengetahuan terhadap Allah. Jika ia benar-benar mengetahui sifat-sifat Allah, tentu ia tidak akan memperdulikan manusia dan fokus mencintai Allah Dzat Yang Mahakuasa. Namun demikian, mencintai Allah artinya juga harus mencintai Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam, ulama, orang-orang bertakwa dan para kekasih Allah. Kenapa demikian? Al-Ghazali menjelaskan لِأَنَّ مَحْبُوبَ المَحْبُوْبِ مَحْبُوْبٌ وَرَسُوْلَ المَحْبُوْبِ مَحْبُوبٌ وَمُحِبُّ المَحْبُوبِ مَحْبُوبٌ Artinya, “Karena sesuatu yang dicintai oleh kekasih adalah seperti kekasih, utusan kekasih adalah seperti kekasih, dan pecinta kekasih adalah seperti kekasih pula.” Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûmiddîn, juz IV, halaman h. h. 301. Melihat penjelasan ini kita temukan bahwa hakikatnya tidak ada kekasih kecuali Allah. Tidak ada yang berhak untuk dicinta selain Allah. Yang paling layak dan paling sempurna memenuhi lima kategori cinta di atas hanyalah Allah, bukan lainnya. Selain Allah mungkin hanya memiliki salah satunya, sedangkan Allah mempunyai keseluruhannya. Tentu, jika orang masih memberikan cinta kepada selain Allah, disebabkan dangkalnya pengetahuan kepada-Nya. Wallâhu a’lam. Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.
home cinta allah menurut ibnul qayim Tausyiah Senin, 30 Mei 2022 - 1415 WIB Seluruh muslim sepakat bahwa cinta kepada Allah adalah suatu kewajiban. Allah berfirman berkenaan dengan orang-orang mukmin Ia mencintai mereka dan mereka mencitaiNya. Tausyiah Jum'at, 09 Desember 2022 - 1527 WIB Takdir manusia sudah ditentukan Allah Subhanahu wa taala, baik takdir yang baik maupun takdir yang bagaimana sikap seorang muslim terhadap ketentuan takdir ini, terutama jika harus mengalami takdir yang buruk? Tausyiah Kamis, 16 Februari 2023 - 0931 WIB Takdir manusia di dunia sudah ditetapkan Allah Subhanahu wa taala, bahkan jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia. Ada takdir yang baik, begitu juga ada takdir yang buruk. Tausyiah Rabu, 01 Februari 2023 - 1025 WIB Imam al-Ghazali mengatakan banyak orang mengaku telah mencintai Allah, tetapi masing-masing mesti memeriksa diri sendiri berkenaan dengan kemurnian cinta yang ia miliki. Tausyiah Kamis, 18 Juni 2020 - 0500 WIB Sebenarnyalah, ujar Imam Ghazali, jika kecintaan kepada Allah benar-benar menguasai hati manusia, maka semua cinta kepada yang lain pun akan hilang. Muslimah Rabu, 20 Juli 2022 - 1720 WIB Allah Taala adalah satu-satunya Tuhan yang wajib dijadikan sandaran oleh setiap muslim. Termasuk dalam hal ini adalah ketika seorang hamba mencintai sesuatu. Apa itu cinta karena Allah? Tausyiah Rabu, 06 Juli 2022 - 0515 WIB Muhammad Quraish Shihab mengatakan Allah Maha Esa dan Keesaan-Nya itu mencakup empat macam keesaan 1. Keesaan Zat, 2. Keesaan Sifat, 3. Keesaan Perbuatan, dan 4. Keesaan dalam beribadah kepada-Nya. Tausyiah Sabtu, 04 Februari 2023 - 1258 WIB Boleh jadi ada orang yang menduga bahwa mungkin saja untuk menikmati kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Allah. Ini sudah terlalu jauh tersesat, ujar Imam al-Ghazali. Hikmah Minggu, 28 Agustus 2022 - 1115 WIB Para ulama menyebutkan ada 10 hikmah dan alasan mengapa Allah tidak terlihat oleh manusia di dunia. Berikut beberapa alasan dan hikmahnya. Tausyiah Senin, 13 Februari 2023 - 1447 WIB Keridaan Allah adalah ganjaran kebahagiaan yang tertinggi dan paling agung kepada kaum beriman dan bertakwa. Dan keridaan, Allah itu tidak terpisah dari rahmat atau kasih Allah kepada manusia. Tausyiah Rabu, 17 Juni 2020 - 1053 WIB Tuhan itu satu, menurut Imam Ghazali, tetapi Ia akan terlihat dalam banyak cara yang berbeda, persis sebagaimana suatu obyek tercerminkan dalam berbagai cara oleh berbagai cermin. Hikmah Sabtu, 08 Mei 2021 - 0450 WIB Ciri-ciri Hudzaifah adalah ia sangat anti kemunafikan, dan mampu melihat jejak dan gejalanya walau tersembunyi di tempat-tempat yang jauh sekali pun. Tausyiah Rabu, 26 April 2023 - 1246 WIB Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang populer dengan nama penanya Hamka atau Buya Hamka adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia. Menurutnya, puncak tertinggi dari pandangan hidup seorang muslim adalah cinta. Tausyiah Sabtu, 12 September 2020 - 0500 WIB Allah Subhanahu wa Taala tidak memberikan suatu kesempitan baca haram kepada hambanya, melainkan di situ juga dibuka suatu keleluasaan di segi lain. Tips Selasa, 17 Mei 2022 - 0948 WIB Dalam pergaulan kaum muslimin, tentu tidak asing dengan ucapan Masya Allah dan Tabarakallah. Kata tersebut sering kita dengar ketika berbicara dengan teman dalam kehidupan sehari-hari Muslimah Senin, 31 Oktober 2022 - 1321 WIB Saat Allah Subhanahu wa Taala mulai menegur hamba-Nya, itulah momen terbaik hamba. Teguran itu berarti bahwa Allah menunjukkan cinta dan kasih sayang-Nya. Seorang hamba yang berbuat salah kepada Allah, kemudian ditegur dari perbuatan salahnya Allah tunjukkan kesalahannya, agar hamba bertaubat dan kembali pada jalan kebenaran. Hikmah Rabu, 25 Januari 2023 - 2304 WIB Salah satu sifat Allah yang wajib diimani adalah Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan manusia, dan sebaliknya Allah melihat segala penglihatan makhluk-Nya. Muslimah Sabtu, 10 Oktober 2020 - 1759 WIB Mungkin kita sering mendengar ada teman atau sahabat menelikung cinta? Atau ketika orang yang kita cintai justru memilih sahabat sendiri untuk dinikahi? Tentang cinta seperti ini, belajarlah dari sahabat Rasulullah Salman Al Farisi. Muslimah Selasa, 09 Februari 2021 - 0752 WIB Allah Subhanhu wa taala yang mengawasi manusia 24 jam sehari atau setiap detik tanpa ada lengah. Haruskah manusia abai terhadap yang Maha Mengawasi ini? Muslimah Minggu, 12 Juni 2022 - 0515 WIB Banyak ayat-ayat dalam Al-Quran tentang cinta ini. Namun demikian, ada beberapa jenis cinta yang ternyata akan menjerumuskan atau menyeret manusia kepada azab dan neraka. Cinta jenis apakah itu?
kalam imam haddad tentang cinta