🎯 Kisah Dalam Kitab Ihya Ulumuddin

Beliauberkata dalam kitab “Dar’ut Ta’aarudh jilid 7 hal 149 setelah beliau menukil tulisan panjang dari kitab Ihya Ulumudin, kemudian ia mengkritik dan mengomentarinya : “Al Ghozali tidaklah memiliki pengetahuan tentang atsar-atsar (riwayat2) Nabawi yang didasarkan pada pemahaman sahabat yang dimiliki oleh ahli ilmu, yaitu orang2 yang Sedangkankajian kedua lebih kepada pengaplikasian dalam kitab Ihya Ulumuddin. Bahkan, buku ini juga menyajikan beberapa temuan-temuan baru, yakni beberapa hadits yang dianggap tidak bersumber dalam kitab Ihya Ulumuddin oleh Imam as-Subuki, al-‘Iraqi, Ibnul-Jauzi dan beberapa ulama lain, kini sudah ditemukan sumbernya. 8 Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya: Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. TimSMcom1. - Rabu, 13 April 2022 | 10:12 WIB. Kitab Ihya Ulumuddin Referensi Utama Studi Ilmu Tasawuf. ( dok) ABAD ke-5 Hijriyah telah melahirkan seorang pemikir besar Islam yang berjuluk ’Hujjatul Islam ’, yaitu Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali. Lahir di Kota Thus, Persia, tahun 450 Hijriyah, dan meninggal pada KabarMakkahCom - Dalam sebuah kitab fenomenal tentang dunia tasawuf, Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghozali bercerita tentang 2 nelayan yang pergi memancing ikan. Mereka sama- sama sudah berdiri di pinggir sungai, kedua nelayan itu masing-masing melemparkan alat pancingnya ke sungai. Sebelum melemparkan mata kail pancingnya nelayan pertama berdo’a: KisahPerjuangan KH. Ihya' Ulumuddin Saat Abina KH Ihya' Ulumiddin mengembangkan tugas dakwah di Ngoro Pujon Malang mendapatkan banyak tantangan dari masyarakat dana atau tokoh masyarakat yang memiliki pemahaman kejawen dan darmo gandul. Taff merah yang selang minyak rem dalam kondisi terpotong ditumpangi beliau dalam perjalanan dari RandomWangsit. Membela Kitab Ihya Ulumuddin Karya Imam Al-Ghozali. “Hampir saja posisi Ihyâ’ menandingi al-Qur’an”. Sanjungan tersebut disampaikan oleh . Kesunnahan Dzikir Setelah Shalat. Para ulama sedunia telah sepakat bahwa sunnat hukumnya bagi kaum muslimin untuk . Perubahan Organ Tubuh Ketika Berpuasa. KisahKurungan Burung Kecil; Jual-Beli Harga Diri; Lihat lebih banyak Bangil, Dalwa Berita – Untuk melatih para santri dalam bidang dakwah, panitia Muharram 1444 H adakan Lomba Khitobah (Pidato) bahasa Arab & Indonesia By Gustiawan Arqi. 1 hari ago HALQOH HADHROMIYYAH MAGRIBIYYAH BERSAMA ABUYA ZEIN HASAN BAHARUN KAJIAN Takmengherankan, kisah raja yang sebelum berkuasa mendapat anugerah adikodrati dan berkemampuan membina hubungan secara kontinu dengan penguasa alam gaib sangat sering didapati dalam legenda raja Jawa. SEORANG pemuda asli Kota Solo, Adam (21), mengatakan, ia pernah semadi di makam Joko Tingkir selama dua hari saat usianya masih 17 hVPLF. Rasulullah pernah mendatangi seorang sahabat yang sedang menghadapi sakaratul maut. Beliau bertanya “Bagaimana engkau melihat dirimu saat ini?” “Aku mengkhawatirkan dosa-dosaku dan mengharap rahmat Tuhanku” kata sahabat tersebut. Lalu Rasulullah bersabda, “Tidaklah rasa takut dan harapan berkumpul di hati seorang mukmin, kecuali Allah memberi apa yang diharapkan dan membuatnya aman dari apa yang ditakutkannya”. Kisah yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin ini membahas suasana psiklogis ketika berdo’a kepada Allah. Sifat Raja’ atau berharap kepada Allah, disertai rasa takut taqwa adalah sikap batin yang tepat ketika menjalin hubungan dengan Yang Mahakuasa. Kitab Ihya lebih menekankan pada kondisi-kondisi kejiwaan, daripada teknis ritual. Misalnya tentang iman. Iman itu bukan sekedar kepercayaan yang tertanam dalam hati, tetapi juga harus memiliki implikasi pada perbuatan. Seorang sahabat Rasul berkata, “Kami tak menganggap keimanan sempurna ketika orang tak bersabar atas derita yang menimpanya. Di balik kesabaran menghadapi sesuatu, tersimpan kesempurnaan iman”. Ihya Ulumuddin lebih fokus bicara tentang psikologi ibadah. Cakupannya luas, meliputi hal ihwal manusia, agama, Tuhan, dan lingkup sosial. Saking lengkapnya kitab ini, Imam Nawawi al Bantani menyebutnya sebaga buku induk keagamaan. “Andai saja semua kitab Islam hilang, dan yang tersisa hanya Ihya Ulumuddin, maka ia sudah menggantikan semua kitab yang hilang itu,” katanya. Sayid Kutub al-Habib Abdullah al-Haddad menyebut kitab ini sebagai pengobar spirit kehidupan. “Dengan kitab Ihya Ulumuddin hiduplah hati kita dan hilanglah kesusahan dan kesukaran”. Secara umum Ihya Ulumuddin membahas kaidah dan prinsip penyucian jiwa Tazkiyatun Nafs. Kitab ini tidak berfokus pada fikih dan diskursus halal haram, tetapi langsung pada pembahasan puncak mengenai hal ihwal manusia dan Allah. Soal salat, zakat, puasa, dan haji, misalnya, tidak dibahas Imam al-Ghazali tentang hukum dan syariatnya, tetapi bicara tentang substansi dan hikmahnya. Maka judulnya jadi “rahasia salat”, “rahasia zakat”, “rahasia puasa”, dan “rahasia haji”. Sebagai kitab tasawuf, di sini segala sesuatu ditinjau dari kedalaman substansinya, mulai keyakinan tauhid, ibadah, hingga akhlak. Alih-alih bicara fikih parsial, kitab ini justru membahas inti keberagamaan. Beberapa hal yang mendapat sorotan penting adalah tentang penyakit hati, pengobatannya, dan cara menyehatkan hati. Dari semua kitab al-Ghazali, Ihya adalah yang paling masyhur. Ihya Ulumuddin, yang artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama, dibuat untuk nguri-nguri ilmu agama yang mengalami penurunan gradual pada setiap zaman. Namun kitab yang diresensi ini bukanlah Ihya Ulumuddin versi lengkap. Ini hanya Ikhtisar atau ringkasannya. Aslinya, Ihya Ulumuddin sangat tebal, terdiri dari empat bagian besar rubu’, dan di setiap rubu’ terdiri dari 10 bab. Versi terjemahnya ada yang dicetak hingga 12 jilid. Secara umum bab-bab itu berisi ilmu yang terbagi dua, yaitu ilmu muamalah terapan dan kedua ilmu mukasyafah pengetahuan. Semua bab itu dirangkum dalam Ikhtisar Ihya’ Ulumuddin yang diterbitkan Wali Pustaka dalam 1 buku setebal 660 halaman. Kitab ini sangat mencerahkan dan membuka mata batin untuk menerima hakikat ubudiyah. Dengan reputasi Imam Ghazali sebagai Hujjatul Islam, kitab ini hanya sedikit tandingannya yang membahas tasawuf substantif secara komprehensif. Bila ada kritik, narasi dalam kitab ini masih lemah pada sanad hadis-hadisnya. Tak heran, kitab ini pernah menjadi obyek kajian para muhaddis untuk melakukan kajian terhadap hadis-hadis yang terdapat di dalamnya, baik dari ulama terdahulu maupun ulama kontemporer. Hadis-hadis tersebut ditahrij ulang dan memang banyak yang lemah dari segi sanadnya. Imam Ghazali bernama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i 1054-1111 H. Ulama besar bermazhab syafi’i ini hanya hidup selama 53 tahun, namun karya-karyanya menjadi literasi induk yang dirujuk banyak kitab hingga kini. Gelar “al-Ghazali” yang secara harfiyah artinya kambing, didapatnya dari ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu domba, dan kebetulan juga ia berasal dari dusun Ghazalah di Thus, Khurasan, Persia kini Iran. Judul Ikhtisar Ihya’ Ulumuddin Penulis Imam al-Ghazali Genre Spiritual Islam Edisi Cet 1, Januari 2020 Tebal 684 halaman Penerbit Wali Pustaka ISBN 978-602-7325-25-3 Ihya Ulumuddin merupakan sebuah kitab pegangan para penganut tasawuf amali karangan Imam Al-Ghazali. Kitab ini, memang masih eksis hingga hari ini dan masih umum dikaji di berbagai pesantren di Indonesia. Namun, kepopuleran kitab ini sempat mengalami ancaman pemusnahan ketika lelaki tawadhu yang selalu menjaga hadis dan sunah Nabi saw bernama Abul Hasan Ali bin Harzahim dibuat ragu oleh Ihya Ulumuddin. Satu ketika Abul Hasan Ali bin Harzahim membuka salinan kitab Ihya Ulumuddin dan mendapati banyak hadis yang dianggapnya daif. Atas dasar itu, di suatu malam ia sempat tidak bisa tidur dengan tenang karena kegeramannya dengan karya Imam Ghazali itu. baca juga Mantan BAIS TNI Desak Mabes Polri 'Garap' Bos Mafia Judi Online Pesan Kemerdekaan AHY Mari Songsong Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik Presiden Jokowi Pimpin Upacara Penurunan Bendera Merah Putih Kegundahan hati yang dialami Abul Hasan Ali bin Harzahim itu memaksanya untuk berniat membakar dan memusnahkan kitab tersebut. Singkat cerita, Abul Hasan Ali bin Harzahim membuat pengumuman kepada seluruh penduduk setempat untuk mengumpulkan salinan kitab Ihya Ulumuddin bagi siapa saja yang memiliki. Awalnya, banyak kalangan yang menolak perintah tersebut, tetapi berkat karisma, kealiman dan ketawadhuan Abul Hasan Ali bin Harzahim akhirnya banyak yang menyanggupinya. Menjelang malam, penduduk di sekitar kediaman Abul Hasan Ali bin Harzahim berbondong-bondong untuk menyerahkan kitab Ihya Ulumuddin itu. Setelah terkumpul, Abul Hasan pun segera mengumumkan kepada para warga bahwa rencana pemusnahan Ihya Ulumuddin akan dilakukan esok harinya karena hari itu sudah mulai gelap. Abul Hasan yang merasa kelelahan karena aktivitasnya sehari itu pun kemudian tertidur lelap hingga membawanya ke alam mimpi. Dalam mimpi itu, Abul Hasan menjumpai Rasulullah saw sedang bersama sahabat Abu Bakar As-Shiddiq dan Abu Hamid Al-Ghazali sang pengarang kitab Ihya Ulumuddin. Di saat Abul Hasan akan mendekati Rasulullah, Al-Ghazali lantas mengadu, "Orang ini, Abul Hasan Ali bin Harzahim, membenci dan memusuhiku, ya Rasulullah. Jika memang masalahnya adalah sebagaimana prasangkanya, maka tentu aku akan langsung bertobat. Akan tetapi, jika tidak, maka bagiku berkahmu senantiasa untukku dan aku masuk ke dalam golongan hamba yang mengikuti sunahmu.” Sontak saja setelah mendengar perkataan Imam Ghazali itu, Rasulullah langsung mengambil kitab Ihya Ulumuddin dan membuka halaman demi halaman sembari berkata, "Demi Allah yang mengutusmu dan membimbingmu ke arah kebenaran, ini benar-benar sesuatu yang baik.” Setelah itu, turunlah perintah kepada Nabi saw untuk mencambuk Abul Hasan Ali bin Harzahim karena fitnah yang dituduhkan terhadap Imam Al-Ghazali. Hukuman cambuk dalam mimpi itu pun dilakukan Rasulullah saw kepada Abul Hasan sebelum Abu Bakar As-Shiddiq memberhentikannya. "Demi Allah wahai Rasulullah, Abul Hasan ini adalah orang yang telah menjaga hadis dan sunahmu. Ia berprasangka ada penyelewengan yang menimpa hadismu. Sayangnya prasangkanya salah. Ia adalah hamba yang mulia,” kata Abu Bakar As-Shiddiq. Cambukan itu pun lantas dihentikan dan membuat Abul Hasan terbangun. Tetapi anehnya, rasa sakit karena cambuk dalam mimpi itu tetap terasa di bagian dada sebelah kiri meski tidak ada luka sama sekali. Atas dasar itu, Abul Hasan Ali bin Harzahim mengurungkan niatnya untuk membakar kitab Ihya Ulumuddin. Wallahu a'lam.[] Sudah sangat masyhur bahwa Imam al-Ghazali merupakan salah satu ulama terkemuka mazhab Syafi’i. Tidak dapat diragukan lagi kapasitas keilmuaannya. Saking alimnya, beliau mendapat julukan Hujjatul Islam yang berarti bukti atau dalil agama Islam. Kitab-kitab karya beliau terbilang cukup banyak, dan hampir seluruhnya sudah tersebar di berbagai penjuru negeri. Di antara beberapa karyanya yang cukup fenomenal adalah kitab Ihya’ Ulumiddin Menghidupkan Ilmu Agama. Di Indonesia—khususnya di kalangan pesantren—kitab ini merupakan pegangan para santri tingkat paripurna. Dalam dunia pesantren dikenal ungkapan bahwa kurang sempurna bagi seorang santri jika dalam masa nyantrinya belum pernah ngaji kitab Ihya’ Ulumiddin ini. Sayyid al-Qutb As-Syekh Abdullah bin Abi Bakr al-Idrus radliyallahu anhu pernah memuji kedahsyatan Imam al-Ghazali dan kitab-kitab karangannya sebagai berikut أجمع العلماء العارفون بالله تعالى على أنه لا شيء أنفع للقلب وأقرب إلى رضى الرب سبحانه من متابعة الغزالي ومحبة كتبه. وكتب الغزالي لباب الكتاب والسنة ولباب المعقول والمنقول. انتهى. “Para ulama al-arif billah sepakat bahwa tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati dan lebih dekat menuju ridha Allah dibanding mengikuti Imam al-Ghazali dan mencintai kitab-kitabnya. Kitab al-Ghazali merupakan inti sari dari Al-Qur’an dan hadits dan juga inti sari dari sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal dan tidak terjangkau oleh akal” Habib Zein bin Ibrahim bin Smith, Al-Manhaj as-Sawi, hal. 249. As-Syekh al-Qutb Abdurrahman as-Segaf bahkan secara khusus menegaskan pentingnya mengkaji kitab Ihya’ Ulumiddin, beliau berkata ومن لم يطالع الإحياء» فما فيه حياء “Barangsiapa yang tidak mengaji kitab Ihya’ Ulumiddin maka ia tidak memiliki rasa malu” Habib Zein bin Ibrahim bin Smith, Al-Manhaj as-Sawi, hal. 249 Namun jika kita menelaah kitab Ihya’ Ulumiddin secara seksama, seringkali kita temukan dalil hadits yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab tersebut banyak yang berstatus hadits dhaif, bahkan hadits yang bertaraf munkar. Lantas apakah hal ini akan tidak menurunkan terhadap kredibilitas kitab Ihya’ Ulumiddin? Ulama terkemuka Damaskus, Syekh Said Ramadhan al-Buthi pernah ditanya hal serupa dalam majelis fatwanya. Beliau menegaskan bahwa pencantuman berbagai hadits dhaif dalam kitab Ihya’ Ulumiddin bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, sebab Imam al-Ghazali mencantumkan hadits-hadits dhaif tersebut umumnya dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan fadhail al-a’mal keutamaan beberapa pengamalan, bukan sebagai dalil atas penetapan hukum syara’. Sangat masyhur dalam pandangan para ulama hadits bahwa hadits dhaif masih dapat diamalkan dalam ranah fadhail al-a’mal, selama hadits dhaif tersebut tidak terlalu parah kedhaifannya, misalkan sampai bertaraf hadits maudhu’. Berikut penjelasan beliau mengenai hal ini لماذا تكثر الأحاديث الضعيفة والمنكرة فى إحياء علوم الدين للإمام الغزالى وهو الذي يدّعى حجة الإسلام؟ أكثر الأحاديث الضعيفة والمنكرة الواردة فى كتاب إحياء علوم الدين للإمام الغزالى تتعلّق بفضائل الأعمال الثابت فضلها بأدلّة ثابتة أخرى. وعلماء الحديث متفقون على أنه لا ضير فى الإستشهاد بالأحاديث الضعيفة لفضائل الأعمال بشرط أن لا يشتدّ ضعفه وأن لا يوهم الراوي أثناء الإستشهاد بها بأنّها صحيحة على أنّ الله قيّض لهذه الأحاديث من أبرزها وميّزها وبيّن ضعفها وهو الحافظ العراقي فما الإشكال الذي يؤرق بالك من هذا الأمر الذي لا إشكال فيه. “Mengapa banyak hadits dhaif dan hadits munkar dalam kitab Ihya’ Ulumiddin milik Imam al-Ghazali, padahal beliau mendapat julukan Hujjatul Islam? Mayoritas hadits dhaif dan hadits munkar yang terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumiddin milik Imam Al-Ghazali berhubungan dengan keutamaan beberapa pengamalan fadhail al-a’mal yang keutamaannya memang tetap dengan beberapa dalil konkrit yang lain. Para ulama hadits sepakat bahwa tidak masalah menjadikan dalil hadits dhaif untuk urusan keutamaaan beberapa pengamalan fadhail al-a’mal dengan syarat sifat lemahnya tidak terlalu parah dan tidak menjadikan salah paham pada pertengahan mendalil bahwa hadits yang disampaikan adalah hadits shahih. Selain itu, Allah juga menetapkan hadits-hadits ini pada seseorang yang menampilkan, membedakan dan menjelaskan kedhaifan hadits-hadits tersebut, dia adalah Al-Hafiz al-Iraqi. Lantas kemuskilan apa yang terbesit dalam hatimu tentang persoalan ini yang sebenarnya tidak perlu dimuskilkan?” Syekh Said Ramadhan al-Buthi, Masyurat Ijtima’iyyat, hal. 149. Baca juga Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berbagai hadits dhaif yang terdapat dalam kitab Ihya’ Ulumiddin sama sekali tidak menurunkan kredibilitas serta kualitas kitab tersebut sebagai kitab rujukan. Sebab mayoritas pencantuman hadits dhaif dalam kitab Ihya’ Ulumiddin ini bukan untuk menjadikan dalil penetapan hukum syara’, tapi dalam ranah menjelaskan fadhail al-a’mal yang telah disepakati kelegalannya oleh para ulama hadits dengan berdasarkan hadits yang dhaif. Wallahu a’lam. Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember

kisah dalam kitab ihya ulumuddin